Bojan Hodak Pergi di Waktu yang Tepat

Oleh: Bobotoh untuk Bojan Hodak

Jujur, saya sedih mendengar Bojan Hodak tidak lagi melatih Persib Bandung. Tapi setelah dipikirkan lebih jauh, saya justru merasa ini adalah waktu yang paling tepat bagi dirinya untuk pergi.

Bukan karena saya tidak ingin melihat Bojan kembali memimpin Persib. Bukan karena saya meragukan kemampuannya. Justru karena saya sangat menghargai apa yang telah ia berikan kepada klub ini.

Bojan pergi ketika namanya berada di tempat tertinggi dalam sejarah Persib modern.

Foto: IG/Adam Alis

Tiga gelar juara liga secara beruntun bukanlah prestasi yang bisa dianggap biasa. Bahkan mungkin akan sangat sulit untuk diulangi dalam waktu dekat. Selama tiga musim terakhir, Bojan berhasil membawa Persib menjadi tim terbaik di Indonesia. Ia tidak hanya memenangkan pertandingan, tetapi juga mengubah mentalitas tim menjadi mentalitas juara.

Karena itu, apapun yang terjadi setelah ini, nama Bojan Hodak sudah terukir dalam sejarah Persib. Ia tidak perlu membuktikan apa-apa lagi. Legacy-nya sudah selesai dibangun.

Ketika Bobotoh mengenang era kejayaan Persib, nama Bojan akan selalu masuk dalam daftar pelatih terbaik yang pernah dimiliki klub ini. Itu tidak akan berubah.

Alasan kedua, musim depan akan jauh lebih sulit dibandingkan musim-musim sebelumnya.

Banyak orang melihat Persib sebagai tim terkuat saat ini. Tetapi justru status itulah yang membuat tantangan semakin berat. Setelah tiga kali juara beruntun, semua klub pasti memiliki motivasi yang sama: menghentikan dominasi Persib.

Musim depan tidak akan ada lagi faktor kejutan. Semua lawan sudah mengenal cara bermain Persib. Semua pelatih akan mempelajari kekuatan dan kelemahan Persib lebih dalam. Semua tim akan menganggap pertandingan melawan Persib sebagai final.

Apalagi jika Bojan tetap bertahan.

Lawan tidak hanya ingin mengalahkan Persib, tetapi juga ingin mengalahkan Bojan Hodak sebagai simbol keberhasilan Persib dalam tiga musim terakhir. Beban itu akan semakin besar dari pekan ke pekan.

Pergantian pelatih setidaknya membuat Persib memasuki babak baru. Lawan harus kembali beradaptasi dengan pendekatan baru yang dibawa pelatih baru. Tekanan yang selama ini melekat kepada Bojan juga ikut berkurang.

Alasan ketiga adalah ekspektasi yang sudah terlanjur sangat tinggi.

Ini yang menurut saya paling berat.

Musim lalu Persib membangun ulang skuad. Banyak pemain baru datang. Banyak pihak meragukan apakah tim bisa langsung kompetitif. Namun pada akhirnya Persib tetap keluar sebagai juara.

Masalahnya, keberhasilan itu justru menciptakan standar yang nyaris tidak masuk akal untuk musim berikutnya.

Jika musim lalu dengan tim yang baru dibentuk saja bisa juara, lalu apa yang diharapkan Bobotoh musim depan?

Tentu juara lagi.

Bahkan mungkin bukan hanya juara. Bobotoh akan berharap Persib tampil dominan, bermain lebih baik, menang lebih banyak, dan berprestasi di level Asia. Ekspektasi seperti itu akan menjadi tekanan besar bagi siapapun yang duduk di kursi pelatih.

Sedikit hasil buruk saja akan dianggap sebagai kemunduran. Sedikit penurunan performa akan langsung dibandingkan dengan keberhasilan musim-musim sebelumnya.

Tekanan itu datang dari mana-mana. Dari rival, media, manajemen, hingga Bobotoh sendiri.

Karena itulah saya merasa Bojan pergi pada saat yang sempurna.

Ia pergi bukan karena gagal. Ia pergi bukan karena dipecat. Ia pergi bukan karena kehilangan dukungan.

Ia pergi setelah menyelesaikan misinya dengan sangat baik.

Tidak semua pelatih memiliki kesempatan meninggalkan klub dalam kondisi seperti ini. Banyak pelatih pergi setelah mengalami kegagalan. Banyak pelatih pergi setelah kehilangan kepercayaan.

Bojan berbeda.

Ia pergi sebagai juara. Ia pergi sebagai legenda. Ia pergi dengan rasa hormat dari Bobotoh.

Dan mungkin, itulah akhir terbaik yang bisa dimiliki seorang pelatih sepak bola.

Terima kasih, Coach Bojan.

Tiga bintang mungkin hanya simbol. Tetapi kenangan yang Anda tinggalkan akan jauh lebih lama hidup di hati Bobotoh.

Penulis: saya yang berakun instagram @imranoyok16